1

Belajar Pemilu Dari Pemilihan Presiden Amerika

Sungguh menarik melihat bagaimana setiap kandidat calon presiden pemilu presiden Amerika Serikat ke-56 berpidato untuk menarik simpati para pemilih. Isu yang diangkat pada pidato bergantung pada dimana tempat kampanye berlangsung. Biasanya isu yang diangkat berkisar tentang kebijakan luar negeri, kesetaraan gender, kesetaraan ras, tingkat upah, pendidikan dan lainnya. Tidak jarang sesekali mereka melepaskan “serangan” terhadap lawan-lawannya atau kritik terhadap pemerintah yang berkuasa. Tetapi yang pasti setiap kata-kata yang keluar disampaikan dengan cara yang sangat elegan. Puncak acara dari seluruh prosesi, yaitu pemilihan presiden, akan diadakan pada hari selasa tanggal 4 November 2008 dan presiden beserta wakilnya yang terpilih akan disumpah pada tanggal 20 Januari 2009.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, terpilihnya seorang presiden benar-benar ditentukan oleh rakyat yang sudah memiliki kesadaran pilitik. Asas, “Kedaulatan Tertinggi Berada Di Tangan Rakyat”, benar-benar dilaksanakan mengikut aturan hukum dan demokrasi. Itu sebabnya, setiap kandidat yang bertanding, mesti sanggup menguraikan program partainya masing-masing yang rasional, logis dan sejalan dengan tuntutan rakyat.

Sudah sembilan kali kita, bangsa Indonesia, menyelenggarakan pemilu untuk memilih wakil-wakil rakyat dan presiden. Pemilu yang akan kita lakukan tahun 2009 mendatang adalah yang ke-10. Walaupun perkembangan demokrasi di Indonesia sekarang ini sudah menunjukkan kemajuan, proses kampanye pemilu presiden masih saja identik dengan cara-cara yang primitif. Kampanye yang penuh dengan simbol atau tokoh populis, konvoi, pengibaran bendera parpol, kampanye yang hanya marak dengan musik dangdut dan cara lain yang jauh dari pembelajaran politik cerdas. Kampanye yang berselimut money politic, sembako dan atribut partai. Semua praktik itu selama ini memang cukup efektif dalam merebut hati pemilih yang sangat pragmatis. Kandidat yang bertarung dalam setiap pemilu juga hanya cukup mempersiapkan akting yang populer, menyesuaikan selera pemilihnya. Tidak diperlukan kecerdasan dan visi yang membawa pada perubahan. Metode kampanye di Indonesia juga sangat menonjolkan figur dari kandidat, sehingga terkadang pemilih Indonesia tidak begitu mengetahui visi yang dibawa oleh kandidat. Bagaimana mungkin masyarakat tidak memilih seseorang berdasarkan figurnya kalau kampanye yang dilakukan adalah untuk menjual sosok sang calon bukannya pemikirannya. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kampanye di Amerika yang menekankan pada konten yang dibawa oleh kandidat.

Perlu diakui cara-cara kampanye primitif yang rentan berakhir konflik ini tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Para elit politik berpendapat bahwa cara tersebut adalah cara yang efektif untuk menyedot massa. Dengan merubah format kampanye menjadi lebih cerdas yang memberikan pembelajaran politik bagi rakyat dinilai terlalu berisiko. Sangat besar kemungkinannya cara tersebut tidak cocok dengan pemahaman rakyat dan justru melahirkan antipati. Atau mungkin saja cara-cara primitif seperti itu tetap dijalankan oleh para elit politik karena mereka tidak pernah mau untuk merubah rakyat menjadi massa yang pintar dan kritis. Para elit politik sengaja membuat rakyat tetap bodoh sehingga mereka akan dengan setia menghadiri kampanye terbuka asal tetap ada hiburan penyanyi dangdut dan sembako gratis. Di sisi lain kondisi masyarakat Indonesia dalam memahami kampanye masih sangat rendah. Kemampuan mereka untuk memilah dan membedakan orang-orang yang memang benar-benar layak untuk dipilih masih sangat rendah. Mereka lebih tertarik pada hiburan-hiburan.

Secara ideal, kampanye pemilu merupakan proses komunikasi politik yang dapat memengaruhi pengetahuan politik dari masyarakat. Output dari pengetahuan itu akan tampak dari tingkat partisipasi politik, bukan dari mobilisasi politik. Jadi bisa dikatakan bahwa mobilisasi politik itu merupakan akibat dari kegagalan komunikasi dan pendidikan politik. Sederhananya, kampanye pemilu dibutuhkan untuk memberikan informasi kepada pemilih. Dengan harapan, pemilih akan mengetahui program partai dan atas dasar pengetahuan itu, pemilih akan tertarik untuk menentukan pilihan pada saat pencoblosan. Ini yang sesungguhnya diharapkan dari suatu kampanye yang mencerdaskan pemilih.

Maka dari itu, pendidikan politik menjadi penting agar pemilih memiliki tanggung jawab terhadap pilihannya. Sebab, orang yang dipilih itu menentukan nasib pemilihnya. Mereka akan menentukan bagaimana kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan. Demokrasi yang di dalamnya ada pemilu, memerlukan pemilih yang cerdas dan bertanggungjawab. Bung Hatta pernah mengingatkan, demokrasi memerlukan tingkat pendidikan rakyat, agar mampu memiliki kesetaraan untuk memilih. Dalam demokrasi tentu saja yang penting tidak hanya siapa yang akan menjadi presiden akan tetapi bagaimana cara memilihnya merupakan hal yang lebih penting. Demokrasi yang membawa perubahan, hanya dihasilkan oleh pemilu yang berkualitas. Pemilu yang berkualitas hanya dapat terjadi bila pemilihnya cerdas dan bertanggungjawab pada pilihannya. Kita sangat berharap Pemilu 2009 bisa terselenggara secara lebih baik lagi, sebagai sarana melakukan perubahan dan mengantarkan babak baru yang lebih baik bagi Indonesia.

Menjadi penonton kampanye pemilu AS memberi banyak pelajaran tentang bagiamana para kandidat menyusun strategi pada setiap kampanyenya. Tentu saja tidak seperti pemilu Indonesia yang penuh “warna” disertai semarak musik dangdut dan arak-arakan para kandidat.

Posted by archienomics at 9:59 PM

Filed in: Info Politik Tags: , , , , ,
Related Post:

One Response to "Belajar Pemilu Dari Pemilihan Presiden Amerika"

  1. Ya kita harus mengambil segi positive dari itu

Leave a Reply

Submit Comment
*

© 2012 Seo and Socmed. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
Proudly designed by Theme Junkie.