Awal dari semua kejahatan di muka bumi ini adalah dusta. Begitu kata Saidun, guru ngaji saya di kampung. Mengapa? Dalam berdusta, kita sendirilah yang tahu, kita itu sedang berbohong atau tidak.
Siapa pun yang tega menipu diri sendiri pasti lebih tega melakukannya pada orang lain. Saidun mengingatkan, munafik adalah serendah-rendah nilai manusia di mata Tuhan. Munafik berarti tidak satunya kata dan perbuatan. Cirinya, Obral Janji.
Lantas, bagaimana kita tahu munafik atau tidak?
Pemilu adalah peristiwa mahapenting dalam sejarah bangsa ini. Proses memilih presiden yang membawa bangsa ini ke depan. Dalam proses sepenting itu, di mana pers berada? Pers hadir sekadar menjual space kosong untuk bebas diisi capres. Atau, ada tanggung jawab lain yang lebih bermakna untuk bangsanya?
Pilar ke-4 yang menjaga demokrasi adalah pers. Untuk itu, kebebasan pers harus dipertahankan. Ibarat pisau, pers bebas diarahkan ke mana saja. Pertanyaannya, nurani atau sponsorkah yang bicara?
Ada Yang Harus Dijaga
Obama terpilih, kita menyaksikan indahnya dan terhormatnya demokrasi. Bukan sekadar kisah menangnya kulit hitam atas kulit putih atau muda versus tua. Lebih dari itu, menangnya nurani dan akal sehat. Di sini terlihat peran pers amat jelas. Pers membawa perbedaan fundamental tiap kandidat presiden ke ruang publik.
Pertama, rakyat Amerika akhirnya sadar untuk memilih jalan kapitalis yang sosialistik ketimbang kapitalis bebas ala Reagan. Tentu dengan segala konkuensinya.
Kedua, rakyat memilih multilateralisme ketimbang unilateralisme. Artinya, mereka menerima bahwa Amerika hanya merupakan salah satu kekuatan penyeimbang dunia. Bukan lagi menjadi pengatur (baca: polisi) dunia.
Ketiga, soft power lebih diterima ketimbang hard power. Air mata bercucuran saat Obama berbicara I will listen to you, especially when we disagree. Untuk orang-orang yang tidak memilih dia, Obama santun berkata sungguh-sungguh bekerja untuk mereka. Dan, kemenangan Obama pun menjadi kemenangan rakyat Amerika.
Lebih mengharukan, pidato politik McCain. Dia berjanji mengawal kepresidenan Obama mencapai cita-cita Amerika. Kita melihat keagungan di sini. Value yang mencerminkan keluhuran budi, sportivitas, dan patriotisme tinggi. Mereka sadar, ada hal yang harus mereka jaga demi masa depan bangsanya, yaitu kebersamaan! Tanpa kebersamaan, Amerika akan hancur, apalagi dalam situasi ekonomi sulit ini.
Lantas, bagaimana mereka bisa mencapai itu semua? Jawabannya, kematangan berbangsa dan kerja maksimal pers dalam melakukan investigasi dan edukasi.
Benarkah para capres kita sadar betul akan pentingnya menjaga kebersamaan? Benarkah maraknya iklan politik akan identik dengan lahirnya pemimpin-pemimpin unggul yang bernurani, sportif, dan patriotis? Apakah kita akan melihat keindahan dan terhormatnya demokrasi saat pemilu hadir di negeri ini?
Kata-Kata Membunuh
Pada awal putaran kampanye tampak tanda-tanda mencemaskan. Tudingan Rizal Ramli, dalam paparannya di TV, SBY melakukan rekayasa statistika. Itu tuduhan berat, kebohongan publik! Pertanyaannya, apakah tudingan tersebut merupakan rekam jejak atau hanya black campaign? Sebab, ternyata Ramli pun mencalonkan presiden. Artinya, tudingan itu maybe yes maybe no dan rakyat bingung.
Di sinilah pers seharusnya hadir membuka tabir? Komentar Amien Rais tentang SBY-Kalla takut menghadapi asing. Menyetujui UU Migas adalah ketololan yang menyundul plafond. Mungkin benar, tapi tidak adakah kalimat yang lebih soft?
Saat McCain menyebut country first, ratingnya naik melebihi Obama. Tudingan ”that one” (baca: orang di luar kita) untuk Obama membuat rating McCain melorot dan tidak pernah naik lagi.
Pelajarannya, black campaign bisa menjadi bumerang. Saat Sarah Palin terkena masalah, Obama tegas mengatakan akan memecat tim suksesnya yang melakukan black campaign. Terasa benar hadirnya kesantunan politik di sini.
Masih ingat saat ulang tahun PDIP di Palembang? Mega mengkritik langkah pemerintahan SBY-Kalla seperti poco-poco. Dengan nada menghina, Anas Urbaningrum menasihati Mega untuk lebih sering becermin dan membaca. Seandainya Anas itu tim sukses Obama, pasti sudah dipecat.
Tapi, negeri ini aneh, posisi Anas di partai justru makin penting saja. Atau ada skenario lain, lempar batu sembunyi tangan? Kisah seperti itulah yang muncul di ruang publik. Orang pintar tahu apa yang dikatakan. Tapi, orang bijak tahu apa dampak dari ucapannya.
Nah, seharusnya para elite tahu cara mengolah delivery agar substansinya bisa lebih diterima. Dan, bagaimana mungkin kita dapat membangun kebersamaan kalau para elite terus mengumbar kata-kata membunuh?
Pers Perjuangan
Jim Collins dalam bukunya Good to Great mengingatkan,”First who and then what”. Kalau diibaratkan membeli kucing dalam karung, iklan politik adalah karungnya. Sekadar bungkus tempat menjual diri semata. Seindah apa pun karung dihias, who-nya (baca: kucingnya) tetap tak terungkap. Tidak ada gunanya kita berbicara ”what” kalau tidak tahu betul who-nya.
Lantas, di mana peran pers? Pers mempunyai dua wilayah, wilayah iklan dan wilayah pemberitaan. Iklan adalah wilayah yang bisa dibeli dan si pembeli dapat menulis apa pun sesuai tujuannya. Jelas tidak mungkin kita mengungkap ”who” dari wilayah iklan.
Di sini media harus memilih. Main aman dengan iklan politik dan sibuk menghitung laba walau sadar ikut menyesatkan. Atau, tegak sebagai intellectual gate keeper menjaga bangsanya. Tampil tegar menghadapi risiko di wilayah pemberitaan. Membawa analisis tajam rekam jejak capres ke ruang publik, membuka mata hati rakyat.
Beruntung saya pernah bertemu mendiang Mochtar Lubis. Pers tidak hanya urusan teknik pemberitaan semata. Makna publik adalah tujuan utama pers. Landasan moral, etika, keberpihakan pada -kebenaran dan kepentingan masyarakat- adalah nyawa pers.
Mochtar mengingatkan, pers Indonesia lahir karena perjuangan dan sampai akhir tetap menjadi alat perjuangan. Jelas, perjuangan menuntut sacrifice, bukan sekadar usaha mengejar laba.
Lantas, ke mana pisau pers akan diarahkan? Tegakah kita membiarkan rakyat tak berdaya tersesat, memilih karung indah berisi serigala?
Ario Djatmiko, pengajar di Fakultas Kedokteran Unair




