(disajikan oleh Prof Dr Ryass Rasyid, Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan)
PDK lahir pada tahun 2002. Waktu itu kita melihat bahwa tidak banyak yang bisa kita harapkan dari pemerintahan yang ada pada waktu itu. Karena situasi negara dan pemerintahan kita yang tidak sepenuhnya bisa mengatasi dan memberikan solusi terhadap berbagai masalah besar. Sehingga PDK ini kita dirikan bersama teman-teman dengan satu tujuan yang sangat konkrit, yaitu Menghadirkan Pemerintahan yang Baik.
Itulah Visi kita. Bagaimana menghadirkan pemerintahan yang baik, yang bisa mengantarkan masyarakat Indonesia kepada kesejahteraan, dan menjamin perlakuan yang adil dari negara kepada mereka. Kalau Anda lihat pada visi dan misi dari semua partai lain, tidak ada yang sama dengan PDK.
Kita fokus kepada pemerintahan karena alasan yang sederhana. Tidak ada kebijakan ekonomi yang baik bisa berjalan tanpa adanya pemerintahan yang baik. Anda punya konsep ekonomi, konsep hukum, dan konsep sosial yang baik, tetapi pemerintahannya tidak dipimpin oleh orang-orang yang cerdas, amanah, dan kompeten, pemerintahannya juga boros, tidak efisien, korup, dan sebagainya, omong kosong saja. Kita ingin menghadirkan pemerintahan yang baik sebagai sarana dan faktor utama untuk menerbitkan kebijaksanaan yang bisa mensejahterakan rakyat.
Lalu, apa pemerintahan yang baik itu? Anda sudah lihat sendiri bahwa konsep ekonomi dan hukum banyak yang bagus, tetapi macet semua karena pemerintahannya tidak baik.
Pemerintahan yang baik itu intinya hanya tiga. Pertama, dipimpin oleh orang-orang yang cerdas, kompeten, dan punya kredibilitas pada semua jajaran. Kedua, administrasinya efisien dan dikelola secara professional. Ketiga, program-programnya jitu dan mengutamakan serta mendahulukan kepentingan rakyat. Inilah yang belum selesai sampai hari ini, dan kita berjuang untuk itu.
Dari tahun 2002 sampai hari ini, kita masih menganggap bahwa ini masih relevan. Karena apa yang kita harapkan dari hasil Pemilu 2004 pun tidak memberikan harapan yang baik. Bahkan, keadaan yang sedemikian buruk selalu menyertai perjalanan kita. Apakah itu karena kesalahan pemerintah atau pihak lain, paling tidak kita menganggap bahwa pemerintahan kita tidak maksimal melaksanakan peran yang sungguh-sungguh untuk menolong rakyat. Berbagai kebijakan itu tidak berorientasi kepada kepentingan rakyat. Itu bisa kita ulas satu per satu kalau diperlukan, bagaimana pemihakan kepada rakyat itu terbatas pada retorika belaka.
Karena itulah kita mau memberikan pencerahan kepada rakyat supaya rakyat bisa membedakan antara pemerintahan yang baik dengan pemerintahan yang buruk. Antara pemimpin yang jujur, iklas, dan kompeten, dengan yang tidak. Jangan sampai terpengaruh oleh penampilan dan retorika belaka. Rakyat kita sudah terlalu lama dimanipulasi.
PDK bertugas untuk memberikan pencerahan kepada publik. Tentang hak mereka atas pemerintahan yang baik dan hak atas masa depan yang lebih baik, sehingga tidak ada lagi orang yang stress karena tidak punya masa depan. Itu yang mau kita tonjolkan. Maka visi PDK itu adalah menghadirkan pemerintahan yang baik untuk kesejahteraan dan untuk keadilan.
Di antara program-program PDK untuk kesejahteraan itu sangat jelas pada butir keenam dari misi kita, yaitu mendahulukan pembangunan ekonomi untuk sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertukangan, dan pariwisata. Ini adalah sektor-sektor yang tidak memerlukan waktu lama untuk persiapan, hanya memerlukan alokasi anggaran yang cukup. Ini tidak memerlukan rakyat yang pintar semua, namun persoalannya masih lebih dari separo bangsa kita ini pendidikannya hanya SD, baik itu tamat maupun tidak tamat. Kalau menunggu itu semua pintar dulu baru programnya bisa berjalan, repot. Makanya kita mengambil yang sangat humble, rendah hati, dan sangat mungkin kita lakukan, yaitu sektor perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan, pertukangan, dan pariwisata. Ini yang memerlukan faktor-faktor pendukung seperti infrastruktur, serta faktor-faktor kondisi keamanan dan sosial.
Sektor pariwisata misalnya, itu sangat menjanjikan. Hanya jaminannya harus ada, seperti akses kepada tempat-tempat wisata harus ada, keamananpun harus terjamin. Yang lain-lainnya sudah disiapkan oleh Tuhan. Tuhan memberikan kita terlalu banyak kebaikan, tetapi kita sia-siakan.
Bukannya sombong kalau sebenarnya Malaysia itu tidak ada apanya sebagai obyek wisata bila dibandingkan dengan Indonesia. Hanya kita tidak mengelolanya sebaik mereka. Ini soal management saja.
Sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan kita sangat potensial. Kita kelebihan air setiap tahun, sedangkan yang menjadi persoalan pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan itu masalah air sebenarnya. Namun, karena kita tidak bisa mengelolanya dengan baik, sehingga yang terjadi adalah air berlimpah yang diberikan Tuhan itu justru menjadi bencana. Harusnya ada satu kemampuan management dari kita untuk mengelola air yang berlimpah itu, sehingga dia berguna dan bukan menjadi bencana. Itulah gunanya kita mengundang para ahli.
Pemerintahan harus akrab dengan keahlian. Pemerintahan harus dikelola dengan pengetahuan yang cukup. Itulah yang selalu saya kemukakan bahwa perlu ada integrasi antara pengetahuan dan kekuasaan. Tidak bisa lagi Anda sembarangan dalam mengurus rakyat, tanpa pengetahuan yang cukup dan tanpa mengintegrasikan pengetahuan itu ke dalam praktek kekuasaan. Kalau menurut saya, ada prospek. Saya optimis bahwa negeri ini bisa maju lagi asalkan pemerintahannya bagus, dia mengelola sumber daya dengan bagus, mengarahkan pada tujuan-tujuan secara jitu, dan melibatkan orang-orang terbaik yang kita miliki.
Jangan sampai pemerintahan itu menjadi tempat penampungan partai politik. Partai politik bisa merekomendasikan orang. Namun Presiden, Gubernur, atau Walikota, harus memilih orang yang betul-betul memiliki kompetensi. Yang diambil harus yang terbaik dari segi kemampuan. Jangan menjadi tempat akomodasi politik. Itu namanya komodifikasi jabatan-jabatan negara untuk kepentingan politik. Rakyat itu akan marah. Mereka berhak memperoleh pemerintahan yang benar dari orang-orang yang ahli dan mempunyai integritas.
Hak rakyat inilah yang sampai hari ini belum terwujud. Karena sikap para pemimpin pemerintahan kita yang tidak menjadikan kemampuan sebagai basis utama dengan rekrutmen. Itulah persoalan paling besar kita, yaitu bukan orang-orang terbaik yang mengelola negara ini, melainkan orang-orang yang paling kuat dukungan politiknya. Padahal, pemerintahan itu tidak terikat dengan partai politik. Partai politik itu hanya di DPR, dan jangan masuk ke kabinet. Bahwa partai mengusulkan orang yang terbaik memang harus ditanggapi. Tetapi, bukan fungsionaris partai dengan kemampuan yang pas-pasan mengurus negara. Bagi saya, itu merupakan suatu penghianatan terhadap hak rakyat untuk memperoleh pengelolaan yang baik.
Pada Pemilu 2009 ini, PDK menawarkan pemerintahan yang baik, pemimpin yang baik, konsep administrasi yang efisien dan profesional, konsep tentang prioritas kebijaksanaan yang terbaik, yang sudah saya kemukakan tadi salah satunya dalam bidang ekonomi. Selain itu tentu saja sektor pendidikan, lingkungan hidup, kesehatan, keamanan, dan sosial, harus diperhatikan.
Kalau kita bicara tentang kesejahteraan, itu memang berada pada bidang ekonomi. Apapun kebijakan ekonomi yang kita lakukan, harus bisa menciptakan lapangan kerja yang seluas-luasnya. Kebijakan apapun yang Anda buat, baik itu di sektor pertanian, perkebunan, pertanian, finansial, dan perbankan, semua harus berkiprah pada muaranya untuk menciptakan lapangan kerja yang luas.
Ini persoalan paling besar yang kita hadapi. Kemiskinan itu antara lain karena pengangguran, di samping faktor-faktor lain seperti pendidikan yang rendah dan infrastruktur yang tidak bisa terjangkau untuk mereka bisa beraksi secara ekonomi. Itu yang harus kita jadikan acuan. PDK sudah mempunyai konsep-konsep yang terurai tentang itu.
PDK adalah partai yang sederhana dan partai yang ikhlas. Karenanya target kita pun sederhana saja, yaitu bagaimana kita bisa lolos 2,5 persen. Kalau lebih dari itu, sudah merupakan rahmat Tuhan yang sangat besar. Tetapi jangan sampai kurang. Kalau sampai kurang dari itu, kita akan mengakui bahwa kita gagal.
Sesuai visi dan misi PDK, maka pemimpin yang kita harapkan adalah pemimpin yang kompeten, tegas, jujur, iklas, tidak membohongi rakyat, tidak terlalu banyak bicara, dan tidak terlalu banyak berpidato. Kita ingin pemerintahan ke depan itu tidak terlalu banyak beriklan, karena itu sebenarnya memalukan. Itu menggunakan uang rakyat untuk beriklan. Selain itu, bagi saya itu peniru karena iklan itu untuk menjual produk. Mengiklankan keberhasilan itu bagi saya tidak fair. Harusnya dia hanya perlu menunjukkan keberhasilannya itu dengan berita. Biar masyarakat yang menilai, dan jangan sampai memuji diri sendiri. Semua kementerian dan propinsi beriklan. Pilkada juga demikian. Baliho dimana-mana dan setelah pilkada juga ada baliho lagi dimana-mana. Negeri ini akan menjadi negeri iklan.
Saya kira kita harus mengubah pendekatan kita. Konkrit saja. Kalau ada orang yang mau berkampanye untuk menjadi presiden, tidak usah beriklan dengan menjual satu atau dua menit tentang citra diri. Buat saja aktivitas selama berhari-hari atau berbulan-bulan, seperti dengan memperbaiki Puskesmas, memperbaiki ribuan sekolah, atau dengan memperbaiki lingkungan hidup. Undang televisi untuk meliput itu dan jadikan berita. Jangan hanya berkata bahwa Hidup untuk Perbuatan, tetapi perbuatannya sendiri tidak di-shoot. Perbuatannya yang harus diiklankan dan bukan omongannya.
Insya Allah, kalau nanti PDK masuk ke dalam pemerintahan, akan memberikan nasihat kepada pemerintahan yang akan datang agar jangan lagi beriklan. Pertama, itu menggunakan uang rakyat secara tidak fair. Kedua, Anda bekerja itu tunjukkan kerjanya dan bukan citranya. Kita sudah capai dengan pencitraan. Citra itu menipu, Saudara! Percaya atau tidak!
Jangan kita menipu rakyat terus-menerus dengan citra. Berikan kepada rakyat kejujuran dengan perbuatan yang konkrit. Kalau memang Anda sanggup untuk membayar iklan sampai bermilyar-milyar, kenapa tidak digunakan untuk memperbaiki sekolah, atau untuk melayani rakyat yang susah melalui pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan, perbaikan lingkungan agar mereka tidak mengalami polusi, atau melalui pelatihan keterampilan. Masukkan sub itu sebagai berita, sehingga waktunya lebih lama, tidak hanya satu atau dua menit. Itu akan lebih fair. Rakyat akan terbuka pemikirannya bahwa inilah orang yang sudah berbuat. Bukan yang sibuk membangun citra.
Saat ini, ada banyak calon presiden yang tampil ke permukaan. Namun, kita belum bisa memutuskan siapa yang akan kita dukung. Pertama, karena diperlukan persyaratan dukungan partai untuk bisa mencalonkan orang. Bisa saja orang yang sangat baik, tetapi tidak mungkin maju karena tidak mendapatkan dukungan dari partai. Kita mau realistis saja. Saya sendiri memang sudah mempunyai ide-ide tentang siapa yang akan didukung dari yang ada sekarang ini, tetapi mungkin baru akan kita lemparkan setelah Pemilu legislatif, sehingga kita bisa melihat bahwa peluangnya itu ada. Saya tidak mau lagi bahwa PDK ini terus terlalu idealis, menghayal, dan sebagainya, tetapi orangnya tidak bisa terpilih. Jadi, di antara yang ada itu akan kita pilih siapa yang paling mungkin untuk menang dan membawakan perjuangan ini. Sekarang, kita tidak bisa mengukur kemampuan-kemampuan itu dan saya pikir mereka juga akan tersinggung kalau kita menilainya sekarang. Pada waktunya nanti, kalau sudah selesai Pemilu legislatif, rakyat juga sudah bisa menilai.
PDK juga akan bicara secara terus terang. Nanti, PDK akan menjelaskan mengapa tidak mendukung Bapak ini atau Ibu ini, dan mengapa kita mendukung ini. Itu akan kita jelaskan supaya fair, karena sesuatu itu harus jelas. Yang saya teliti dari survey-survey yang ada sekarang, hasilnya adalah bahwa tiba-tiba Anda bertanya kepada rakyat mau pilih siapa di antara A, B, atau C, tanpa menjelaskan apa kemampuan mereka, apa komitmen mereka, dan apa prestasi mereka di masa lampau. Bagi saya itu penipuan dan itu jebakan. Anda harus fair kepada rakyat dulu. Kalau Anda pilih ini, latar belakang orang ini dulu seperti ini, prestasinya seperti ini, dan kalau dia terpilih, dia akan berbuat seperti ini. Barulah rakyat disuruh memilih, sehingga rakyat itu memilih bukan karena gambaran orang yang ganteng atau cantik, tetapi berdasarkan bahwa orang ini bisa mengubah nasib saya atau tidak. Saya kira sekarang sudah waktunya untuk seperti itu.





